Recent Posts

Comments

Steve jobs

Pencarian yang Berakhir
Hari ini aku terbangun cepat dari mimpi indahku, karena aku dan kedua orangtuaku akan berpindah rumah. Padahal mimpi indahku tadi, sedang bertemu Raisa dipantai Kuta. Ya khayalanku memang sedang tinggi tadi malam, sehingga aku bermimpi ketemu Raisa pada saat tertidur lelap.
Kepindahan ini menjadi kepindahan ke-4 ku bersama keluarga, karena Papaku yang bekerja di perusahaan ternama di Indonesia. Hal ini mengharuskan Papaku harus pindah ke daerah luar kota setelah beberapa bulan bekerja. Ibu dan Aku pun menjadi korban kepindahan tersebut yang harus mencari teman baru, suasana baru dan mungkin juga pacar baru bagiku.
Setelah semua barang dipersiapkan, aku masih terdiam diruang kamarku sementara waktu. Mengingat indahnya kenangan yang telah aku lakukan di kamar ini, walaupun tidak sampai 1 tahun. Warna merah marun yang mengiasi dindingku hingga foto-foto poster pemain bola favoritku. Aku akan sangat rindu kamar ini, seperti aku merindukan ke rumah-rumahku sebelumnya.
“Andy!!!” Teriak mamaku dari ruang tamu “Buruan nanti telat check-in pesawatnya”
“Ya Ma, bentar lagi. Aku masih rapikan patung miniatur di meja kamarku”
Setelah cukup lama aku bernostalgia dengan kenangan-kenangan di kamar ini, aku pun segera menuju sumber suara teriakkan dari mamaku. Setiap anak tangga yang turuni, menandakan kesiapanku untuk meninggalkan rumah ini.
“Ini barang-barang kamu, mama sama papa masukin ke dalam bagasi. Langsung diam di dalam taksinya”
“Iya Ma”
Dalam perjalanan, aku sangat begitu hafal dengan nama setiap sudut jalan dari kota yang pernah mendapatkan penghargaan Adipura pertamanya pada tahun 2011. Kota yang sangat bersih dan masyarakatnya yang taat pada peraturan lalu lintas. Aku benar-benar tidak ingin pergi dari kota ini, namun ini keinginan dari kedua orangtua yang memutuskan untuk tetap bersama.
Setibanya di Bandara, kami bergegas untuk check-in dan aku mendapatkan duduk bersama mama. Penerbangan ini akan cukup memakan waktu yang lama, sehingga aku tertidur lemas di bahu mamaku.
“Mohon perhatian, kepada seluruh penumpang untuk kembali ke tempat duduk dan mengenakan sabuk pengaman, karena pesawat akan mendarat di Bandara Internasional” Suara pramugari yang samar-samar aku dengarkan dengan kedua telingaku
“Wow” Kagumku melihat besarnya kota ini dan aku berekspetasi bahwa rumah baruku nanti akan berada tepat di tengah-tengah kota. Mungkin keramaian yang akan ku rasakan 2 kali lipat dari kota tempat tinggalku yang dulu.
Saat hendak menunggu barang-barang kami yang dikeluarkan dari bagasi pesawat, aku pun iseng menanyakan keberadaan rumah baru kita nanti.
“Papa, rumah kita nanti ditengah-tengah kota kan?”
“Tidak, ndy. Kita tinggal di daerah BTN supaya papa bisa fokus kerjanya, kalau ditengah-tengah kota keramaian ntar kerja papa, malah terbengkalai
Aku menjadi sedikit kecewa, ketika dalam perjalanan menuju rumah yang akan kami tinggali.. Saat tiba di perumahan BTN, aku melihat ada 6 rumah, diantara 4 rumah sepertinya sudah ditempati berdasarkan penglihatanku dari motor dan mobil yang terpakir rapi setiap dirumah tersebut. Sisa 2 rumah lainnya, 1 rumah milik keluargaku dan satu rumah kosong berdebu, serta jaring laba-laba yang hampir menutupi setiap inci dari rumah tersebut.
Rumahku berada tempat bersebarangan dengan rumah kosong tersebut. Rumah ini sangat besar dengan warna merah dan putih pada pilarnya. Halaman rumah ini begitu luas, sampai pohon mangga besar bisa tumbuh leluasa di halaman rumah dan rumput-rumput Jepang yang melindung sisi-sisi jalan setapak taman rumah.
“Gimana ndy? Bagus kan? Daripada tinggal di tengah kota polusinya banyak dan juga papa bisa semangat kerjanya kalau dirumah seperti ini”
“Ya Pa” Jawabku yang masih memendam rasa kecewa
“Buat kamu, papa kasih buat milih kamar mana yang mau kamu tempati. Ini sebagai ganti rasa kecewa yang ada di mukamu itu”
“Yayaya Pa, aku milih yang ada kamar mandi dalam aja. Itu udah cukup” Gumamku
Ya, aku memang selalu dimanja-manjakan oleh kedua orangtua, karena aku anak satu-satunya. Setiap aku merasa kecewa akan sesuatu hal, kedua orangtuaku langsung sigap menghapus rasa kecewaku. Aku minta ini – itu selalu diberikan oleh kedua orangtuaku. Hanya satu yang aku tidak berikan, seorang adik yang bisa menemaniku dikala kedua orangtuaku akan berpergian 
Steve jobs Steve jobs Reviewed by Dekwid Aryama Putra on April 30, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini

About

Text Widget

Sample Text

Pages

Pages - Menu

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.