Pencarian
yang Berakhir
Hari ini aku terbangun cepat dari
mimpi indahku, karena aku dan kedua orangtuaku akan berpindah rumah. Padahal
mimpi indahku tadi, sedang bertemu Raisa dipantai Kuta. Ya khayalanku memang sedang
tinggi tadi malam, sehingga aku bermimpi ketemu Raisa pada saat tertidur lelap.
Kepindahan ini menjadi kepindahan ke-4
ku bersama keluarga, karena Papaku yang bekerja di perusahaan ternama di
Indonesia. Hal ini mengharuskan Papaku harus pindah ke daerah luar kota setelah
beberapa bulan bekerja. Ibu dan Aku pun menjadi korban kepindahan tersebut yang
harus mencari teman baru, suasana baru dan mungkin juga pacar baru bagiku.
Setelah semua barang dipersiapkan, aku
masih terdiam diruang kamarku sementara waktu. Mengingat indahnya kenangan yang
telah aku lakukan di kamar ini, walaupun tidak sampai 1 tahun. Warna merah
marun yang mengiasi dindingku hingga foto-foto poster pemain bola favoritku.
Aku akan sangat rindu kamar ini, seperti aku merindukan ke rumah-rumahku
sebelumnya.
“Andy!!!”
Teriak
mamaku dari ruang tamu “Buruan nanti
telat check-in pesawatnya”
“Ya
Ma, bentar lagi. Aku masih rapikan patung miniatur di meja kamarku”
Setelah cukup lama aku bernostalgia
dengan kenangan-kenangan di kamar ini, aku pun segera menuju sumber suara
teriakkan dari mamaku. Setiap anak tangga yang turuni, menandakan kesiapanku
untuk meninggalkan rumah ini.
“Ini
barang-barang kamu, mama sama papa masukin ke dalam bagasi. Langsung diam di
dalam taksinya”
“Iya
Ma”
Dalam perjalanan, aku sangat begitu
hafal dengan nama setiap sudut jalan dari kota yang pernah mendapatkan penghargaan
Adipura pertamanya pada tahun 2011. Kota yang sangat bersih dan masyarakatnya
yang taat pada peraturan lalu lintas. Aku benar-benar tidak ingin pergi dari
kota ini, namun ini keinginan dari kedua orangtua yang memutuskan untuk tetap
bersama.
Setibanya di Bandara, kami bergegas
untuk check-in dan aku mendapatkan
duduk bersama mama. Penerbangan ini akan cukup memakan waktu yang lama,
sehingga aku tertidur lemas di bahu mamaku.
“Mohon
perhatian, kepada seluruh penumpang untuk kembali ke tempat duduk dan
mengenakan sabuk pengaman, karena pesawat akan mendarat di Bandara
Internasional” Suara pramugari yang samar-samar aku dengarkan dengan kedua
telingaku
“Wow” Kagumku
melihat besarnya kota ini dan aku berekspetasi bahwa rumah baruku nanti akan
berada tepat di tengah-tengah kota. Mungkin keramaian yang akan ku rasakan 2
kali lipat dari kota tempat tinggalku yang dulu.
Saat hendak menunggu barang-barang
kami yang dikeluarkan dari bagasi pesawat, aku pun iseng menanyakan keberadaan
rumah baru kita nanti.
“Papa,
rumah kita nanti ditengah-tengah kota kan?”
“Tidak,
ndy. Kita tinggal di daerah BTN supaya papa bisa fokus kerjanya, kalau
ditengah-tengah kota keramaian ntar kerja papa, malah terbengkalai”
Aku menjadi sedikit kecewa, ketika
dalam perjalanan menuju rumah yang akan kami tinggali.. Saat tiba di perumahan
BTN, aku melihat ada 6 rumah, diantara 4 rumah sepertinya sudah ditempati berdasarkan
penglihatanku dari motor dan mobil yang terpakir rapi setiap dirumah tersebut. Sisa
2 rumah lainnya, 1 rumah milik keluargaku dan satu rumah kosong berdebu, serta
jaring laba-laba yang hampir menutupi setiap inci dari rumah tersebut.
Rumahku berada tempat bersebarangan
dengan rumah kosong tersebut. Rumah ini sangat besar dengan warna merah dan
putih pada pilarnya. Halaman rumah ini begitu luas, sampai pohon mangga besar
bisa tumbuh leluasa di halaman rumah dan rumput-rumput Jepang yang melindung
sisi-sisi jalan setapak taman rumah.
“Gimana
ndy? Bagus kan? Daripada tinggal di tengah kota polusinya banyak dan juga papa
bisa semangat kerjanya kalau dirumah seperti ini”
“Ya
Pa” Jawabku yang masih memendam rasa kecewa
“Buat
kamu, papa kasih buat milih kamar mana yang mau kamu tempati. Ini sebagai ganti
rasa kecewa yang ada di mukamu itu”
“Yayaya
Pa, aku milih yang ada kamar mandi dalam aja. Itu udah cukup” Gumamku
Ya,
aku memang selalu dimanja-manjakan oleh kedua orangtua, karena aku anak
satu-satunya. Setiap aku merasa kecewa akan sesuatu hal, kedua orangtuaku
langsung sigap menghapus rasa kecewaku. Aku minta ini – itu selalu diberikan
oleh kedua orangtuaku. Hanya satu yang aku tidak berikan, seorang adik yang
bisa menemaniku dikala kedua orangtuaku akan berpergian
AKu
Reviewed by Dekwid Aryama Putra
on
April 30, 2017
Rating:


Tidak ada komentar: